Tips (Not) Good Parenting: Ketika Anak Dipukul Teman, Kenapa Enggak Memukul Balik?

ketika anak dipukul teman

Salah satu ilmu kehidupan bagi anak ketika dia mulai dipukul teman. Paling enggak dia tahu, kalau tidak semua teman berprilaku baik. Mau itu teman di sekolah maupun teman di rumah.

Sebagai Ayah tentu saja jengkel ketika mendengar anak dipukul anak lainnya. Lalu, orang bilang ya namanya juga anak-anak… Tetapi anak saya enggak pernah kok mukul teman. Kalau saya pikir sih, anak yang suka memukul itu kesalahan dari didikan orang tunya. Bukan soal, “namanya juga anak-anak“.

Baca juga: (Tidak) Ada Ujian di Sekolah Anak Saya

Suatu Hari Pulang Sekolah Bercerita tentang Dipukul Teman

Jadi ceritanya begini… Anak saya begitu murung saat pulang sekolah. Dari hasil interogasi, eh ternyata dia dipukul teman.

Ayah : Ayo kita pulang… (menjemput Arden)
Arden : Yuk yah. (muka murung, tidak seperti hari lainnya).
Ayah : Arden kenapa? Loh mukanya merah kayak baru nangis.
Arden : Mata yah bukan muka. Ade dipukul teman. Ade nangis.
Ayah : Terus temannya kamu apakan?
Arden : Aku maafin yah…
Ayah : Kalo ngesilin pukul aja balik.
Arden : Ehm… Kata ibu. Anak baik harus maafin teman.
Ayah : Bagus. Kamu memang anak ibu.
Arden : Kalo besok mukul lagi, Ade pukul mukanya. Biar jadi anak Ayah.
Ayah :Eh… Loh kok gitu. 😧

Yap, saya ajari dia tidak sekedar memberi minta maaf. Tetapi cobalah balas sekali-kali. Kalau ada orang yang mencoba memukul ya balas memukul. Asal bukan memulai memukul temannya sendiri. Itu namanya cari perkara. Lah kalau dipukul melulu sama teman dan kerjaannya nangis melulu. Kan nyebelin…

Belajar memukul balik menurut saya sih baik untuk diri anak menghadapi hari-hari tanpa jangkauan orang tua. Ketika dia berada di luar rumah. Apa saja bisa terjadi. Nah ini masih SD aja sudah dikasarin orang. Terus, masa iya dibiarkan anak lemah tak berdaya.

Dipukul, muka lebam, dan pulang nangis. Kalau guru atau orang lain enggak ada yang tahu soal pemukulan, anak  anak yang nakal tersebut mungkin tak diberi peringatan dan bisa mengulangi perbuatan nyebelin tersebut.

Baca juga: Menangis-Nangis Minta Ke Toko Buku Gramedia

Membela Diri Kayaknya Penting Buat Anak Biar Enggak Jadi Korban Melulu

Sadar anak semata wayang memiliki potensi jadi korban pemukulan, maka menurut saya ndak ada salahnya anak diajari membela diri. Bukan diajari memulai mencari perkara. Ada beberapa hal sih yang sering saya ajarkan ke anak kalau ada anak lain yang jahat kepada dirinya.

  1. Laporkan kepada gurunya dan orang tua. Saya sajari anak untuk bercerita apa saja yang terjadi di luar rumah, temasuk ketika dia belajar di sekolah. Hasilnya, dia selalu cerita apa saja yang terjadi di sekolah. Termasuk ya itu kejadian dipukul teman. Dia sudah lapor ke gurunya dan memang anak yang memukul sudah diberitahu jangan mengulanginya lagi.
  2. Ajari anak juga memaafkan. Begitulah, anaknya bilang langsung maafin, setelah dipukul. Rasa maaf penting buat anak, agar dia tidak mendendam atas perilaku temannya. Tetapi ya maaf saja tidak cukup.
  3. Kalau dipukul, cobalah pukul balik. Begitulah saya bilang, karena menghindari potensi anak jadi korban pemukulan bahkan bullying. Saya ajari dia untuk melawan dan memukul balik. Bagi saya penting, agar temannya tahu kalau anak saya enggak suka dipukul. Orang tua pun menjadi ndak was-was si kecil babak belur ketika berada di luar rumah dan tidak dalam jangkauan mata.

Anak dengan sendirinya akan belajar melindungi dirinya sendiri. Sekaligus biar anak enggak bingung kalau ada orang yang berbuat kasar padanya. Wong di rumah diajari soal kebaikan dan budi pekerti siang dan malam kok.  Maka, selain mengajari kebaikan, kayaknya belajar tentang membela diri itu penting. Agar anak tahu, dia tak harus terus menangis dan mengadu kepada orang tua. Tetapi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Maafkan atau lawan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *