(Bukan) Ilmu Parenting : Tips cerdas Mengantar anak ke sekolah

tips cerdas mengantar anak ke sekolah

Sebetulnya tidak ada tips cerdas mengantar anak ke sekolah menurut ayahblogger. Ini betul-betul dari pengalaman sendiri ketika menghadapi anak yang mulai masuk sekolah dasar alias SD.

Sebagai Ayah yang baik, bagi saya dunia parenting wajib juga dikuasai kaum laki-laki. Tidak hanya ibu-ibu saja. Udahlah ibu mengandung, menjaga sejak baik, pun urusan sekolah Ayah tidak mau membantu? Plias deh, Ayah mau menikah dengan belahan jiwa, atau mencari pembantu sehidup semati.

Jadi begini ceritanya, setelah anak masuk SD, rupanya pola kehidupan di pagi haru total berubah. Tadinya anak sekolahnya sepelemparan batu, kini melewati batas kecamatan.Kalau waktu PAUD, dia bangun jam 8, saat ini harus bangun jam 6. Soalnya sekolahnya aja di kecamatan sebelah.

Nah, untuk menghadapi persoalan baru mengenai tips cerdas mengantar anak sekolah, mau tak mau coba-coba belajar ilmu parenting dari buku bacaan. Iya baca buku, biar pintar menjadi orang tua. Lalu hasilnya?

Baca juga : Kenapa Permainan Anak Laki-Laki dan Perempuan Harus Dibedakan?

Tips Cerdas Mengantar Anak ke Sekolah Tinggal di Angan-Angan Saja

Emang Ayah ikut memikirkan nasib dunia pagi dan mengantar anak ke sekolah. Jawabannya iya. Kenapa? Katanya sosok Ayah adalah bagian penting bagi masa depan anak, bersama ibu mendidikan anak.

Aku sudah baca beberapa buku parenting dan coba diterapkan dalam kehidupan pagi hari dan mana tau jadi tips cerdas mengantar anak ke sekolah.

Katanya tips pertama adalah siapkan semua keperluan sekolah anak pada malam sebelumnya, agar pagi hari berlalu dengan aman dan damai. Lalu, ayahblogger dan istri mengecek semua kebutuhan anak dong, dari buku komunikasi udah, buku tabungan udah, dan alat tulis udah. Buku pelajaran? Tidak, Arden tidak pernah bawa setumpuk buku pelajaran di tasnya. Semua disimpan di sekolah.

Pagi tiba, rencana Arden harus bangun sebelum jam enam batal. Dia malah bangun setengah tujuh. Itu artinya setengah jam terbuang. Padahal itu tips kedua, menurut buku parenting, orang tua harus membuat anak bangun lebih pagi. Ketika mau pergi sekolah, Arden bilang, “Ayah, kata bu Gina harus membawa pakaian dalam ganti. Kan mau renang.” Dari dalam hati pun berkata, “kenapa enggak bilang dari kemarin?”

Lalu hebohlah ibu masuk ke rumah lagi padahal mau salam-salaman dan dadah babay. Dua tips gagal. Yang disiapkan ternyata belum semua dibawa. Lah, anaknya aja baru bilang pagi-pagi bakal mau berenang.

Baca juga : Tips Hemat Quality Time Bersama Keluarga

Tips Ketiga dan Keempat Pun Menjadi Percuma

Persoalannya tips ketiga, dituliskan orang tua sebagiknya mengajak anak makan pagi, agar anak tidak kelaparan selama di sekolah. Itu pun kacau balau. Begini ya, waktu pagi itu begitu banyak drama, dari anak harus mandi, pake baju, dan lain-lain.

Anak pun terpaksa makannya jadi serba ekspres. Arden harus mengunyah secepat kilat. Bayangkan tiga tips memulai pagi jadi gagal.

Lalu ada tips keempat katanya, tersenyumlah dan berkata baik kepada anak ketika memulai pagi hari. Yang ada teriak-teriak menyuruh Arden cepatan melakukan semuanya. Gimana enggak, udah jam tujuh masih leyeh-leyeh kayak di pantai. Kan bisa telat ya ngantar ke sekolahnya. Kesimpulannya, empat tips gagal sudah.

Hingga, akhirnya patut direnungkan, kalau buku menjadi teks yang terlalu baku dan tidak bisa diikuti begitu saja. Kalau sudah begini, penjelasan tentang tips cerdas memulai pagi dan memulai pagi dari buku parenting ambyar sudah.

Satu hal yang disyukuri adalah ya dunia anak enggak bisa kayak textbook, dia bisa bangun pagi dan tidak telat ke sekolah aja udah sukur. Terimalah kenyataan, karena hidup adalah anugerah. Hehehe,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *