Jangan Ditiru dan Kita Harus Ikut Antrian, Nak

harus ikut antrian

Suatu siang yang ramai di sebuah mall saat ingin menukarkan uang menjadi kartu permainan tiba-tiba ada seorang ibu nyelonong dan saya katakan kepada si kecil, “kita harus ikut antrian, nak.” Meski dari raut wajahnya seolah ingin protes, anak saya mengangguk dan berdiri di belakang ibu tadi. Menanti giliran dan uang bisa ditukar kartu permainan juga toh. Saya sering menekankan kepada anak semata wayang saya apapun keadaannya kita harus ikut antrian.

Ibu yang memotong jalur antrian tadi tampak anteng saja, tidak merasa bersalah, dan kelakuannya ternyata dilihat oleh anak perempuannya. Duh, maaf ya adik cantik, ibumu tidak tidak memberi contoh baik pada dirimu. Padahal kalau dipikir-pikir, ikut antri enggak bakal membuat dia kehabisan kartu permainan. Enggak bakal. Wong arena bermain itu cuma cari untung dari pengunjungnya kok.

Sejak kecil, kecil sekali, bahkan belum pun Arden berjalan, Ayahblogger dan ibunya si kecil sudah mengajarinya harus menunggu giliran. Ingat, ikut antrian adalah harga mati! Toh buktinya belajar antri ini ternyata dampaknya sangat besar bagi hidupnya saat ini. Setelah berusia enam tahun, ada nilai-nilai yang tertanam pada dirinya dari budaya mengantri itu.

Baca juga: Berbagi Repotnya Mendidik Anak Bersama Bapak dan Ibu Fasil

Di Sekolah pun Dia Harus Ikut Antrian

Ketika sesi sharing perkembangan anak bersama fasilitatornya (alias guru) di Sekolah Alam Indonesia Sukabumi. Ibu fasilnya bercerita kalau anak saya adalah anak yang sabar dan sangat pengertian. Duh jadi terharu. Beberapa hal yang tampak dari sikapnya di sekolah, antara lain.

  • Anak saya mau menunggu giliran ketika mengumpulkan tugas di kelas. Dia biarkan teman-temannya grasak-grusuk. Arden mah enjoy wae lah.
  • Kata bu fasilnya, anak saya menunjukkan sikap berempati. Dia sangat peduli dengan temannya (Wah… Dalam hati mau berkata, wah anakku….)

Kedua sikap itu menjadi nilai baik bagi anak saya. Ah senangnya. Saya yakin sih ini karena pelajaran mengantri yan Ayah dan ibunya ajarkan sejak dini. Contoh baik dari orang tua akan tertanam dipikirannya dan dilakukannya dimana pun dia berada. Seperti di sekolah itu. Kan jadi senang kalau ibu fasilnya bercerita sikecil pinter ngantri.

Pada banyak kegiatan, anak diajarkan harus ikut antrian. Seperti membeli mainan, mau kencing di wc mall,  jajan di indomaret, dan berbagai tempat lainnya. Mau makan di rumah pun ya antri, siapa duluan pegang piring dia yang bakal duluan. Kalau setiap diberi contoh harus ikut antrian, mudah-mudahan tingkah lakunya diterapkan dalam berbagi kondisi dan tempat yang berbeda.

Baca juga: Anak Bagi Raport, Kok Orang Tua yang Deg-Deg Serrrr

Hai Ayah Bunda Sudahkah Kamu Memberi Contoh Mengantri juga

Tetapi ya eh tapi, kok saya kepikiran ya, apa blogger sekalian mengajarkan tentang “mengantri” ini kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Biar enggak bersikap nyebelin sama orang lain. Ndak enak toh, udah dekat giliran berdiri dan terus giliran Anda dipotong oleh orang lain.

Kalau saya memang sering cuek saja sama orang yang nyelonong begitu, yang penting bukan saya dan anak saya. Orang yang ndak mau antri itu, jangan ditiru. Sikapnya ndak baik baik dirinya, anaknya, dan tentu saja bikin jengkel orang lain.

Jadi ya jadi, jangan lupa harus ikut antrian apapun kondisinya dan di mana pun kamu berada. Biar enggak jadi orang yang nyebelin…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *