Berbagi Repotnya Mendidik Anak Bersama Bapak dan Ibu Fasil

repotnya mendidik anak

Ini adalah pengalaman saya yang mengambil raport anak SD di Sekolah Alam Indonesia dan sekaligus berbagi repotnya mendidik anak dengan para Fasilitatornya. Saya kira ya bagi raport itu cuma dipanggil orang tua, raport dibagikan, dan pulang. Persis kayak saya SD dulu, kadang saya yang ambil sendiri dan beberapa kali orang tua yang dipanggil ke sekolah.

Ternyata eh ternyata, bagi raportnya tidak bisa langsung pulang. Tidak semudah itu. Ada sejumlah penjelasan dari para fasilitator (sebutan untuk guru) tentang apa itu raport di Sekolah Alam Indonesia, poin penting dalam pendidikan di sana, dan penjelasan kenapa metode belajarnya berbeda. Iya beda, anak saya malah bilangnya dia cuma main di sekolah.

Fasilitator memaparkan sejelas-jelasnya tentang pola pengajaran mereka. Tidak lupa kepala sekolah turun tangan memaparkan tentang sekolah yang dipimpinnya. Akhlak, kepemimpinan, dan keterampilan adalah tiga poin penting yang akan dimiliki dalam diri anak sebagai calon pemimpin dunia.

Setelah itu dilanjutkan dengan sharing perkembangan anak antar orang tua dan fasilitator.  Sehingga pembagian raport yang diperkirakan cukup sejam saja, malah pulangnya pada tengah hari.

Baca juga: Anak Bagi Raport, Kok Orang Tua yang Deg-Deg Serrrr

Sharing Orang Tua dengan Guru dan Berbagi Repotnya Mendidik Anak

Nah bagian paling penting dalam acara bagi raport itu adalah sharing antara fasilitator dan orang tua. Bu fasilitator mengajak berbagi repotnya mendidik anak dan bertanya bagaimana perkembangan Arden di rumah. Duh… Pengen jedotin kepala apa yang harus dijelaskan kalau sebagian hidup dengan Arden adalah penuh canda tawa.

Kalau mau jujur, saya saya ndak menerapkan konsep parenting apapun sama anak semata wayang saya. Meski, saya tentu saja membaca banyak buku tentang parenting terutama dalam mendidikan anak yang “banyak akal”. Bukan anak nakal ya.

Baiklah, saya ndak mau mati kutu di depan bu fasilitator. Ayah macam apa saya kalau ndak bisa menjelaskan perkembangan si kecil di rumah. Saya bercerita tentang perkembangan dari akhlaknya yang sudah lebih sopan dan adab secara Islamnya pun sangat terlihat. Hal yang paling utama dia bisa salat plus bacaan lengkapnya. Bagian bisa salat sendiri ini sering bikin terposan. “Bayiku” itu udah bisa salat sendiri.

Ibu fasilitator tersenyum mendengar cerita saya. Lalu berbalaslah penjelasan dari sisi fasilitator. Kurang lebih Arden bisa mengikuti pembelajaran di sekolah. Alhamdulillah. Yang bikin agak terpesona, ketika Arden dibilang sebagai anak yang berempati, sabar, mau menunggu (alias antri), dan mudah diberi pengarahan dalam belajar plus kuat dalam menghafal.

Oh Em Gi… Anakku sebaik itukah dirimu?

Baca juga: Maafkan Kami Meninggalkan Ibu di Indomaret

Beberapa Hal yang Dicontohkan Kepada Anak

Saya sangat bersyukur kalau demikian adanya anak saya. Karena memang tidak ada tips khusus dalam mendidiknya. Namun kami contohkan beberapa hal sejak dia belum bisa berjalan alias dibawah satu tahun. Beberapa hal itu adalah…

  1. Harus mengantri dan menunggu giliran dalam situasi apapun. Eh ternyata kata gurunya, Arden selalu menunggu teman lainnya ketika memberi tugas kepada ibu guru. Dia tidak main serobot.
  2. Jangan buang sampah sembarangan. Efek ajaran ini tetap diterapkan hingga dia sudah SD. Kalau dia menghasilkan sampah, maka harus di buang di tempat sampah atau dia harus bawa pulang ke rumah. Tidak jarang kantong bajunya ya isisnya plastik atau kertas.
  3. Belajar empati dengan peduli sama orang lain. Misal ada teman yang jatuh ya ditolong. Pengemis minta uang ya dikasih. Pengamen nyanyi ya ikutan juga boleh asal ngasih uang setelahnya. Satu hal lagi yang sering diingatkan jangan kasar pada orang lain, contohnya tidak boleh memukul temannya.
  4. Si kecil memiliki koleksi buku dan sering diceritakan kepada dirinya. Jadi ya penjelasan demi penjelasan dari buku cerita ternyata membuatnya mudah memahami penjelasan yang diberikan orang lain. Arden pun akan bertanya kalau dia tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh bu fasilnya, “Anak bapak tidak malu bertanya.”

Saya sungguh berterimakasih para “guru” mau  mengajak orang tua berkonsultasi, berbagi repotnya mendidik anak dan menganggap siswa layaknya anak mereka. Para pengajar berusia lebih muda dari saya, tetapi mereka menunjukkan perhatian ekstra kepada anak-anak. Bersyukur sekali rasanya. Semoga Arden selalu senang belajar di sekolah Alam Indonesia Sukabumi dan permata hati kami ini tidak terlalu merepotkan fasil-fasilnya.

Dan… Mari liburan… Horee horeee horeeee…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *