Ayah juga Bisa Belajar Sabar dari Anak

belajar sabar dari anak

Hei para Ayah dan ibu, kalau dipikir-pikir ya banyak amat ilmu parenting termasuk belajar sabar dari anak. Ayahblogger emang baca buku parenting juga? Yaoloh saya kan mau menjadi orang tua yang baik dan benar. Ya bacalah… Hehehe…

Namun dari pada itu, saya lebih banyak belajar tentang kesabaran menghadapi anak bukan dari buku. Dari anak sendiri. Dari dia, putera semata wayang yang kami cintai sepenuh hati. Belajar sabar dari anak dimulai dari pagi hingga mau tidur lagi. Begitu seterusnya hingga waktu berlalu si kecil tiba-tiba sudah masuk SD.

Baca juga : Kado Terbaik untuk Ayah yang Melindungi Keluarga Sepenuh Hati

Belajar Sabar dari Anak Dari Drama di Pagi Hari

Para Ayah mungkin sering merasakan pagi hari sebagai waktu yang menghebohkan dan bikin jantung berdebar-debar. Bahkan membuat emosi jiwa. Bagaimana tidak, Dari pagi drama kehidupan dimulai. Saya serin mengalami anak tidak mau bangun tidur, padahal sudah jam setengah tujuh. Sementara dia harus diantar ke sekolah dan masuknya setengah depalan.

Kalau sudah begitu, si kecil harus diajak ngobrol dengan penuh kasih sayang.

Ayah : Ayo dong nak bangun, nanti kamu telat sekolah.

Anak : Kemarin juga telat enggak apa-apa.

Ayah : Ya udah. Selamat telat.

Ayah dan ibu terpaksa deh nunggu si kecil benaran mau bangun sendiri. Tak jarang ditambah adegan nangis dengan sejuta alasan. Dari mata sudah diangkat, hari masih gelap, sampai negosiasi pengen libur sekolah.

Ada satu senjata pamungkas yang saya bilang biar tidak semakin rewel. Saya katakan padanya, “Kamu aja yang jadi Ayahnya. Biar Ayah jadi anaknya,” Anak saya pasti menolak, karena dia tidak mau disuruh berkerja untuk mencari uang. Baginya menjadi sosok seorang Ayah itu berat. “Enggak mau, Aku mau sekolah aja Yah. Kerja itu,” lalu bergegas pergi ke kamar mandi.

Baca juga : Dampak Perceraian Bagi Anak Anda, Ayah Harus Mengetahuinya

Belajar Sabar dari Anak Saat Memintanya Makan yang Banyak

Saya sering menyuapi anak semata wayang kalau makan. Tidak selalu, karena dia Sebenarnya sudah terbiasa makan sendiri juga. Dari menyuapi makan membuat saya belajar sabar dari anak. Meski sudah masuk sekolah dasar (SD), minta disuapi adalah bagian dari hidup sei kecil. Kalau tidak, dia benaran enggak mau makan dan memilih bermain bersama teman-teman.

Menyuapi anak makan itu tak mudah, karena nasi tak langsung dikunyah. Anak saya mempunyai kebiasaan makan dari bayi dengan disimpan lama dimulut dulu. Nasinya tidak langsung dicerna. Menyebalkan menunggunya dan bisa membuat darah seperti naik ke ubun-ubun.  Satu suapan nasi mengunyahnya bisa sampai 10 menit.

Ketika emosi terpancing ingin rasanya mesukkan sendok dan piring-piringnya sekalian ke mulutnya. Tetapi tentu saja tidak pernah saya lakukan. Kenapa? Karena anak adalah anugerah dari Tuhan. Meski bikin emosi karena persoalan makan semata. Untuk mengatasi menahan rasa marah, saya sering mengajaknya menonton cerita anak di youtube.

Tidak jarang juga, saya membacakannya buku cerita dari kelinci yang nakal hingga Dinosaurus yang egois karena badannya kegedean. Hasilnya, dia mau makan dengan lahap sambil mendengar cerita. Syukurnya di rumah ada perpustakaan mini yang sengaja dibuat untuknya.

Persoalan makan ini tidak terjadi di sekolah. Dia selalau melahap habis dengan cepat nasi dan lauknya. Anak saya itu Full day school, kalau ndak makan siang di sekolah ya pastilah lapar teramat sangat.

Belajar Sabar Dari Anak Kerena Dirinya Ingin Diperhatikan

Ada saatnya anak menunjukkan kekesalannya karena tidak diperhatikan. Misalnya, ketika melihat Ayahnya terus bergulat dengan laptop dan di sebelah kiri dan smartphone di sebelah kanan. Anak saya sering mengeluh, “Ayah lebih perhatian sama laptop dan sayang sama hape,” katanya. Tidak sekali tetapi berkali-kali.

Tapi ya kan, orang tua harus kerja. Untuk alasan itu, si kecil seringkali heran, kenapa orang tua berkerja tak pernah puas. Di kantor berkerja dan di rumah berkerja. Sementara, anak merasa tak punya teman. Pernah sadar enggak sih Ayah dan juga bunda, dunia kita sering teralihkan sama kerjaan, sama medsos, sama hal lain. Anak menjadi kurang diperhatikan.

Kalau sudah begitu, memberi waktu dengan memperhatikan anak adalah jalan terbaik. Belajar sabar dari anak dengan selalu mendampinya. Enyahkan sebentar perkara kerjaan, gatel bermedsos, dan hal lainnya.

Seiring bertambah usia, seperti anak saya yang sudah SD mulai memahami. Ayahnya benar-benar memperhatikan dan cinta padanya. Bukan sayang kepada smartphone dan pekerjaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *