(Tidak) Ada Ujian di Sekolah Anak Saya

Tidak ada ujian di Sekolah anak saya1

Dua minggu sudah berlalu, dari tanggal 17-28 November ujian di sekolah anak saya. Alhamdulillah sudah selesai. Soal hasilnya baik atau tidak, ya entahlah. Wong anaknya aja ngerasa ndak ada ujian kok.

Sejatinya, Ujian Akhir Semester (UAS) itu pengalaman pertama baginya. Dia masih kelas 1. Dia belum ngeh betul apa sebetulnya ujian itu. Kalau dibilang kamu ujian besok, maka dia menjawab, “Ade cuma ulangan Ayah.” Kalau saya lihat si kecil menilai itu cuma belajar yang diulang-ulang.

“Kan udah pernah ya belajar kayak gitu. Cuma nulis aja,” Sautnya kalau ditanya bagaimana pengalamannya mengerjakan soal UAS-nya.

Ya namanya orang tua, saya ada rasa khawatir juga. Dia bisa tidak ya? Tetapi tidak mendesaknya belajar terlalu keras. Wong, dia ndak ngeh “Apa sebenarnya ujian itu”. Jadi apa yang bisa saya lakukan sebagai Ayah?

Baca juga: Menangis-Nangis Minta Ke Toko Buku Gramedia

Menebak-nebak Seperti Apa Siswa Menjawab Ujian di Sekolah Anak Saya

Ayahblogger dan ibunya memilih untuk memasukkan Arden ke Sekolah Alam Indonesia Sukabumi (SAIS). Sekolah full day dengan materi pembelajaran Pendidikan Umum dan Madrasah. Kenapa kok harus ada pengajaran madrasah segala di SAIS? Karena terkait kebijakan Pemerintah Daerah Sukabumi yang menjadikan pendidikan madrasah diwajibkan bagi siswa usia sekolah dasar.

Kisi-kisi Ujian Akhir Semester pun diberikan oleh fasilitatornya. Ayahblogger sebagai orang tuanya tentu saja mengajak si kecil belajar. Seperti menanyakannya tentang bahasa Arab Anggota tubuh, mangajari berhitung, menghafal ayat pendek, dan banyak pelajaran lainnya.

Anak saya santai saja menghadapi ujian. Ya tadi dia memang enggak ngerti apa itu ujian. Disebut ulangan pun dia pikir hanya mengulang pelajaran seperti hari-hari lainnya.

Belajar di rumah bersama orang tua, anak tidak saya tuntut harus tahu dan menghafal kisi-kisi yang diberikan. Karena ya ndak bakal mudeng juga anaknya dipaksa-paksa. Maka dari itu, orang tua yang penting sudah mengajari di rumah dengan sebaik-baiknya.

Tetapi oh tetapi, masih kepikiran juga, gimana ya anak menghadapi ujian. Bagaimana pula siswa lainnya menjawab soal ujian di sekolah anak saya. Kepikiran! Tentu kepikiran.

Maka saya pun beberapa kali menanyainya tentang ujian alias ulangan di sekolahnya.

Ayah: Giman ujian tadi nak?

Arden: Ade cuma ulangan.

Ayah: Bisa jawabnya, gimana sih ulangan itu. 

Arden: Ayah kayak enggak pernah SD. Nanya ujian terus. Jadi yah, fasilitator (sebutan untuk guru) baca soal. Terus Ade dikasih kertas. Udah Ade tulis-tulis deh di kertas itu. 

Ayah: Ade bisa?

Arden: Emang Ayah enggak pernah SD ya waktu kecil dulu?

Maka, stop bertanya lebih banyak lagi. Sekian kali bertanya, dia memang menjawab ulang itu ya nulis-nulis. Sebaliknya malah heran sama Ayahnya, nanya mulu apa enggak pernah SD ya?

Baca juga: Mengenalkan Pohon Keluarga Kepada Anak, Kenapa Anakku Jadi Dua Orang?

Lalu, Anak Saya Ternyata Harus Remedial, Tetapi ya Tetap Enggak Ngeh Juga Apa Maksudnya

Setelah ujian berlalu, si kecil ternyata dapat remedial ujian dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya juga sadar dia belum diajari bahasa Inggris di rumah. Wajar aja enggak bisa. Wong di rumah ngomongnya pakai bahasa Indonesia. Arden juga tidak terlalu lancar menggunakan bahasa Sunda (bahasa Ibu dan lingkungan tempat tinggalnya).

Masalahnya, waktu ditanya gimana kok bisa remedial. Dia jawab, “Ade kan memang enggak bisa bahasa Inggris, jadi pas Fasil nanya enggak Ade Jawab.” Persis prediksi sih ini. Yang menjadi persoalan adalah Ayah dan Ibunya ndak tahu kapan jadwal remedialnya. Jadi fix dia enggak belajar sama sekali. Kalau disuruh belajar pun kayaknya enggak mau deh. Sudah lelah diminta belajar malam-malam selama dua minggu.

Tetapi dibalik kebingungan tentang ujian di sekolah anak saya, saya tidak was-was ketika melihat materi pembelajarannya selama satu semester. Hasil pembelajaran yang diberikan oleh pengajarnya menunjukkan kalau dia bisa mengikuti pembelajaran di Sekolah Alam Indonesia Sukabumi. Tenang rasanya. Saya senang memasukkan Arden ke SAIS, karena dia tidak dituntut untuk menghafal dan belajar secara ketat.

Lalu, kesimpulan dari isi blog kali ini adalah di sekolah anak saya juga mengadakan ujian, tetapi anaknya enggak ngerasa ada ujian. Ujian sudah selesai dan anaknya ngerasa enggak ada bedanya kok sama belajar dengan hari-hari lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *