Tentang Warna Laki-Laki

tentang warna laki-laki

Aku mengernyitkan kening ketika anak lelakiku menolak dipakaikan baju pink, dia mulai terpengaruh tentang warna laki-laki.

“Itu baju cewek, yah,” Sambil mengambil baju berwarna lain untuk dipakainya. Aku sendiri menghindari penyebutan warna untuk laki-laki dan perempuan. Karena efeknya jangka panjang. Tak tahu gradasi warna, itu yang kualami.

Bahkan hijau dan biru, kuanggap aja warna biru. Merah mudah dan merah itu ya merah aja. Itu karena ajaran tentang warna laki-laki dan perempuan. Akhirnya, si kecil kami mulai membedakannya.

Agak kesel sebenarnya. Meski ada baiknya dia mengerti perbedaan gender. Tapi ada buruknya, dia akan menilai kalau laki-laki dan perempuan akan berbeda secara sosial. Semoga saja tidak.

“Persoalan warna ini tak bisa dianggap sepele.” Begitu kata kawanku suatu kali. Pelan-pelan aku coba memahaminya. Karena dari warna berpengaruh pada bentuk baju yang boleh dipakai atau tidak. Dari baju nanti orang beralasan, kalau baju membuat seseorang tidak boleh melakukan A dan B. Tidak pantas memakai baju begitu dengan warna begini. Jadi panjang persoalannya.

Maka, pengaruh soal warna untuk laki-laki dan perempuan ini harus diberi pengertian ulang. Kalau pink, kuning, dan merah bagus kok untuk si kecil. Meski dia laki-laki. Warna hijau, biru, hitam pun bagus-bagus aja buat perempuan. Sama saja.

Ketika di rumah mengenalkan warna tanpa “perbedaan”, sayangnya di luar rumah melakukan hal yang sebaliknya. Sampai penanaman nilai lainnya juga dicampur aduk. Pokoknya enggak boleh bagi laki-laki. Padahal alasannya ndak jelas. Pokoknya ndak boleh.

Kalau sudah begitu, inginku mengatakan, “Anak-anak gue kenapa situ heboh sih soal warna bajunya.”

Cibiran Tentang Warna Laki-laki dan Warna Perempuan

Awalnya tiada perbedaan tentang warna perempuan atau warna untuk laki-laki dari setelan pakaian yang dikenakan anakku. Ayah dan ibu tak pernah mempersoalnya dengan tujuan agar dia tidak terlalu memandang perbedaan warna. Si kecil tak perlu menyematkan warna untuk laki-laki dan warna perempuan. Seperti yang aku tuliskan efeknya jangka panjang.

Penyematan perbedaan warna  bagi laki-laki dan perempuan ini ternyata berpengaruh kepada teman bermainnya. Banyak orang tua yang melarang anaknya memakai baju warna tertentu. Ketika dia melihat temannya memakai baju warna pink (misalnya), maka anak itu akan membully. Laki-laki pemakai baju warna pink itu seperti anak perempuan atau banci. Enggak kebayang dari persoalan warna menjadi cara untuk mengejek teman bermain.

Bagiku anak laki-laki ya sah-sah saja memakai warn apapun. Begitu pula sebaliknya. Tidak perlu dibeda-bedakan, apalagi menjadi bahan ejekan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *