Ketika Anak Memilih Seorang Sahabat

anak memilih seorang sahabat

Anak memilih seorang sahabat yang dipikirnya cocok untuk bermain dan dirasa tidak pernah jahat bagi dirinya. Secara alamiah, manusia memiliki keinginan untuk mengobrol, bermain, bertukar pikiran, dan lain-lain. Manusia membutuhkan orang lain untuk menopang keberadaannya dan memperoleh manfaat dari orang tersebut.

Anak semata wayang saya pun begitu, dia mulai pilih-pilih sahabat. Keriterianya cukup dua hal saja, yaitu jangan jahat dan mau diajak bermain. Rasa mencintai dan menyayangi tumbuh saat dia mulai mengenali banyak teman dengan karakter yang berbeda dan akhirnya akan memilih.

Suatu kali anak saya pernah bilang begini…

Arden: Kalau Aku enggak mau berteman dengan Sebastian. 

Ayah: Kenapa?

Arden: Dia suka mukul aku. Aku enggak suka kalau dipukul.

Benar saja, si kecil cenderung menghindari temannya tersebut. Pokoknya enggak mau dipukul lagi. Meski, sebagai orang tua, saya ndak yakin juga masalahnya cuma pukul-memukul. Namun, adan toh punya cara sendiri dalam memilih sahabat. Hingga dia mengatakan, cuma ada 4 orang temannya yang diajak bermain. Dua diantara empat orang itu pun, cuma dua orang yang dianggap cocok baginya. Begitulah anak memilih seorang sahabat.

Baca juga: Tentang Warna Laki-Laki

Dari Belajar Berhubungan dengan Temannya, Anak Memilih Seorang Sahabat

Anak akan belajar mengenali dan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dia akan mencari
seseorang yang bisa diajak berbicara dan berkomunikasi. Seorang memilih sahabat dari lingkungan rumah atau sekolahnya untuk dirinya sendiri.

Ada kalanya anak menemukan sahabat di tempat lain, seperti di jalanan, melalui media sosial, tempat bermain, dan tempat lain. Ketika anak terkesan dengan orang yang ditemuinya dan merasa cocok, dia akan mencari persamaan dan perbedaan dari sahabatnya.

Anak memilih seorang sahabat bisa jadi karena terkesan saat ngobrol, senang melihat senyumannya, sikap yang ramah, dan gaya berbicara yang lebih lembut. Hingga, membuat rasa simpati  dan membuat keduanya menjalin persahabatan.

Dari memikirkan dirinya sendiri, cara berpikirnya semakin berkembang, hingga mulai merasa membutuhkan orang lain. Seorang anak akan mulai mencari persahabatan dengan orang lain yang memiliki kecocokan dan kesamaan
dengannya.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa pada usia enam hingga sembilan tahun, anak memilih sahabat dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat tinggal, cara bergaul orang tua, dan lingkungan sekolah.

Persoalannya, orang tua sering tidak bisa memantau siapa sahabat anak-anaknya, apakah mempengaruhi perangai si kecil atau tidak. Maka, orang tua sepatutnya turut andil membantu anak memilih seorang sahabat.

Baca juga: Karena Kamu Bukan Anak Sembarangan: Mengajari Anak Tidak Buang Sampah Seenaknya

Tugas Orang Tua Bukan Memilih Sahabat, Tetapi…

Turut andil orang tua bukan dalam memilih sahabat, tetapi orag tua mengajarkan kepada anak manfaat dari pertemanan. Orang tua bisa memberikan pengertian tentang bagaimana bergaul yang baik, menghadapi orang lain, dan mengenali siapa orang yang menjadi sahabat si kecil.

Sepertinya penting juga, orang tua mengajarkan anak tata cara berteman dan bergaul yang baik, meskipun anak dapat mempelajarinya sendiri. Tetapi itu tidak cukup, anak tetap saja bukan orang yang berpengalaman dalam pergaulan. Contohnya saja, anak saya yang tidak mau berteman dengan seorang temannya karena pernah dipukul.

Maka orang tua bisa memberi saran bagaimana bergaul dan memulai persahabatan. Tidak lupa pula, orang tua sering-sering mengajak anak mengobrol, agar tahu juga kepribadian dari sahabatnya.

 

Bahan Bacaan tulisan: Keluarga dan Anak Bermasalah, Karangan Dr. Ali Qaimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *