Anak Bagi Raport, Kok Orang Tua yang Deg-Deg Serrrr

anak bagi raport di Sekolah Alam Indonesia

Hai orang tua sudahkan anak-anak bagi raport? Gimana rasanya? Deg-degan? Ketika menulis blog ini, anak saya bagi raport keesokan harinya. Saya juga deg-deg serrr, tetapi lebih karena penasaran bagaimana sih rasanya  menerima raport anak kelas 1 SD yang diserahkan langsung sama gurunya.

Anak semata wayang saya sudah beres menyelesaikan semua ujiannya. Meski dia enggak ngeh juga, apa itu ujian. Menurut anak saya, dia lebih banyak main daripada belajar. Mungkin, metode pembelajaran Sekolah Alam Indonesia Sukabumi membuatnya enggak sadar kalau dia menerima begitu banyak pelajaran di sana.

Di sekolah, dia belajar ilmu madrasah dan juga pengetahuan umum. Saban hari senin-jumat pulang sampai jam dua. Anak kelas satu itu menjalani enam setengah jam harinya. Meski pulangnya lama, dia tampak senang-senang saja, bahkan enggak pulang ke rumah kalau sedang dijemput. “Aku mau main dulu yah, tunggu aja dulu di situ,” lalu duduklah di depan kelas menunggunya bermain bersama teman-temanya.

Hingga satu semester berlalu, ah dia sudah mau bagi raport. Kalau dilihat-lihat seih dia lancar-lancar saja dalam belajar. Begitu pula ujian, cuma satu yang remedial (mengulang ujian) dan itu adalah pelajaran Inggris. Apesnya, orang tuanya malah endak tahu dia mengulang ujian itu, dannnnn ya sudahlah, mau dibilang apa. Belajar kebut semalam toh tiada guna! Ngajarin anak kelas satu pula. Mending kasih bendera putih deh.

Lalu, malam ini menanti hari berganti, bagi raport….

Baca juga: Maafkan Kami Meninggalkan Ibu di Indomaret

Anak Bagi Raport Lah Dia Aja Belum Ngerti Kok

Waktu si kecil masuk SD, sejujurnya saya terharu sekali. Anakku yang ditimang dan ditunggu semalaman biar tidur itu sudah tidak PAUD lagi. Mau pergi ke sekolah ndak ada drama lagi, enggak nangis lagi, dan jarang sekali menatap ke belakang lagi kalau di antar sampai gerbang sekolah. Lari aja gitu ke kelas. Seolah menunjukkan sikap, “babay Ayah… Aku lebih senang di sekolah loh.”

Saya sendiri sudah bicara sama Arden, kalau besok dia mau bagi raport. Tanggapannya, “Raport? kenapa harus dinilai-nilai segala?”

Ayah: Besok kamu bagi raport ya…
Arden: Raport teh apa ya?
Ayah: Buku laporan sekolah kamu 1 semester.
Arden: Buat apa yah harus lapor-lapor segala…
Ayah: Biar tahu kamu pintar atau cerdas di sekolah….
Arden: Aneh ya Yah, kok pintar ada nilainya segala…
Ayah: ???? Ehm… (lalu hening, tak mampu berkata apa-apa lagi).

Penilaian dari pengajarnya di sekolah tidak berbentuk angka, tidak ada rangking, dan tidak pula bilang anak bapak pintar loh… Tetapi lebih pada penjelasan-penjelasan tentang perkembangan selama anak belajar di kelas. Mid-semester lalu, anak saya dibilang belum luwes dalam mengutarakan pendapat. Sebegitu bawel di rumah, kok malah jinak di sekolah.

Tetapi ya sudahlah yah… Fasilitatornya lebih tahu kemampuannya di kelas. Saya sudah bersyukur banget, anak kecil itu sudah mulai membaca, bisa beribadah salat, menghafal pelajaran, banyak banget perkembangannya. Suer deh enggak nyangka! Kalau ngajarinnya di rumah kan bisa minta ampun dan penuh drama. Eh di sekolah mah, aman dan damai.

Baca juga: Tips (Not) Good Parenting: Ketika Anak Dipukul Teman, Kenapa Enggak Memukul Balik?

Sebelum Bagi Raport Ngebayangin Dulu Aja Deh Kayaknya Bakal Menahan Haru Deh…

Kalau ingat waktu SD dulu, saya pun tanpa beban di sekolah. Dimasukkan ke sekolah swasta dan belajar tanpa hambatan. Bagi raport pun, orang tua ndak pernah marah sama nilai yang tertera. Mau delapan, enam, lima, tujuh, pokoknya kamu harus belajar lebih baik lagi. Itu terus yang diingatkan orang tua hingga menikah. “Kamu harus belajar lebih baik mendidik anakmu.”

Nah, sekarang malah kebagian jatah mengambilkan raport, saya bayangin ya.

  1. Saya bakal terharu ketika guru ngasih raport.
  2. Kerutkan kening ketika diberi pengarahan sama guru.
  3. Ngasih jempol sama anak dan hindari merendahkan. Siapkan segala sanjung puji. Lagian anaknya juga ndak ngerti apa itu raport sebenarnya.
  4. Siap-siap jajan ke minimarket karena anak sukses sudah belajar selama satu semester.
  5. Selanjutnya, liburan bersama ibu… Horeee

Semoga begitu kejadiannya dan enggak meleset dari perkiraan saat anak bagi raport. Bagaimana pun, saya harus bersyukur memiliki anak yang tumbuh kembangnya sangat baik, lancara berbicara, dan tidak merepotkan dari sejak dia bayi. Cuma ya itu ya, ngomong mulu kalo di rumah. Kenapa di sekolah jadi jinak….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *