Andai Aku Punya Sayap : Nyanyian Yang Bikin Seorang Ayah Tersenyum Haru

andai aku punya sayap

29 Juni 2019, Arden bernyanyi, “Andai Aku Punya Sayap”  dan membuat seorang ayah tersenyum melihatnya. Ayah itu adalah aku. Enggak nyangka pada akhirnya, dia bernyanyi di depan umum. Di antara teman-teman sekolahnya.

Sabtu pagi itu, kami sudah terbangun. Ibu tak ada. Ada pelatihan penting terkait baseline survey project kerjaan kantor. Jadilah, subuh menjelang acara pembagian raport hari itu, Ayah yang mempersiapkan semuanya.

Baju putih, celana hitam, tas, kamera, dan lain-lain-lain-lain. Sehingga tas terisi penuh. Bagi raport siswa sekolah alam itu berbeda, orang tua harus datang dan berbagi cerita dengan fasilitator alias sang pengajar. Tentang Arden setelah belajar setahun. Tentang baik, nakal, tangis, dan dunia selow Arden di sekolah. Bagian anak selow nanti diceritakan di tulisan yang lain.

Bagi raport semester genap ini berbeda, karena acara dipadu dengan Book Fair. Festival buku ala anak sekolah alam itu ternyata menjadi ajang memamerkan buku. Anak-anak kecil itu menulis dan menggambar bukunya sendiri.

Aku terkesiap ketika Arden bilang, “kulit pisang itu aku yang warnai, yah.” Arden menunjukkan buku karyanya bersama beberapa orang teman-temannya.

Oh ya, acara festival buku berbarengan dengan bagi raport itu dimulai dengan senam, duh lupa nama senamnya. Yang pasti, anak-anak bergerak sesukanya pagi itu. Dari fasilitator hingga orang tua, ya ikutan senam. Sekolah alam memang berbeda, anak, fasilitator, dan orang tua terlibat dalam kegiatan di dalamnya. Termasuk senam pagi.

Setelah itu, kelas 1 rupanya tampil. Aku pikir ini penampilan biasa. Setiap kelas toh tampil di depan umum. Tetapi tidak. Ternyata ada yang berbeda. Semua anak kelas 1 dipanggil ke atas panggung. Panggungnya sederhana, tetapi istimewa. Karena di panggung itu si kecil bakal menunjukkan bakatnya yang tak terduga.

Setelah semua anak berbaris, Pak Indra menyetel gitar, mic berpindah-pindah tempat. Arden memindahkan mic, ke muazam, ke Sauqi, Ke Aufa, dan akhirnya diletakkan dilantai. Dasar anak-anak. Aku sendiri siap-siap mengambil foto. Tanpa bermaksud membuat video pada moment itu.

Tetapi, ketika senar berbunyi, aku menekan tombol merekam. Dari kamera itu, aku lihat Arden menunjuk mic yang tergeletak pasrah di lantai. Dia tunjuk-tunjuk berulang kali sambil mengatakan sesuatu pada Pak Indra. Entah apa yang dibilangnya. Hingga, mic itu ada di genggamannya. Intro lagu dimulai… dan…

Arden bernyanyi bersama teman-temannya. Suara Arden terdengar nyaring. Ya iya, kan dia yang pegang mic. Justru hal itu yang membuat penampilannya istimewa hari itu. Sang pemegang mic bernyanyi….

Andai Aku punya Sayap

Satu-satu

Daun-daun Berguguran

Tinggalkan tangkainya

 

Satu-satu

Burung kecil Beterbangan

Tinggalkan sarangnya

Jauh, jauh, tinggi ke langit yang biru

Kukira dia bakal lupa liriknya, ternyata tidak. Arden menyelesaikan lagunya. Sambil merekam, lama-lama merasa terharu sendiri. Si kecil udah bernyanyi di keramaian hingga lagu selesai.

Andaikan aku punya sayap

Ku kan terbang jauh

Mengelilingi angkasa

Kan ku ajak ayah bunda ku

Terbang bersama ku

Melihat indahnya dunia

 

Selesai tampil bersama teman-temannya, Arden menghampiriku. “Bagus tadi nyanyinya, kok enggak bilang mau tampil,” kataku. “Ade kan tampil bareng teman-teman. Tapi enggak ada yang mau pegang mic. Ade minta aja mic-nya sama pak Indra.” Jadi, begitu kenapa Arden jadi sang pemegang mic.

Hari itu menjadi hari yang bikin happy. Video Arden pun disebarkan ke medsos, dan grup keluarga. Semua senang melihatnya. Kalau diingat-ingat bukan mau terbang ke langit yang biru lagi, diajak Arden ke Matahari Department store pun mau. Abis bagi raport belanja belinji.

Arden, kami bangga padamu. Jadilah anak baik. Ada apanya dirimu. Semoga bakatmu kian baik dan mari kita asah. Mungkin, kamu butuh sekolah musik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *