Yah, Kata Ferdinan Merayakan Tahun Baru itu Haram

merayakan tahun baru itu haram

Nyatanya masalah merayakan tahun baru itu haram atau tidak haram juga mempengaruhi pikiran anak kecil juga. Arden mungkin ndak nyangka dengan apa yang dikatakan oleh seorang temannya.

Ayah: Dari mana kamu?
Arden: Rumah si Ferdinan. Yah kata Ferdinan merayakan tahun baru itu haram.
Ayah: Emang kamu merayakan tahun baru?
Arden: Ade mah bobo yah, bangun jam 4. Terus kata Ibu pas bangun, “selamat tahun baru.”
Ayah: Itu bukan merayakan tahun baru. Tapi ngasih selamat. Bilang aja, sama Ferdinan ngasih selamat itu kan bagus. Kayak, “Selamat ulang tahun ya Ferdinan.”
Arden: Oh gitu yah. Terus Ade bilang, beli tobot karena tahun baru. Setiap tahun baru harus beli mainan baru.
Ayah: Terus dibilang haram juga enggak sama Ferdinan?
Arden: Enggak yah… Kan ini mainan baru. Malah mau minjam coba…
Ayah: Bilang, Minjam mainan baru itu haram. Kayak merayakan tahun baru.
Arden: Nanti Ade bilangnya gini, “Kata Ayah Ade juga haram tahu, minjam mainan Ade terus. Apalagi minjamnya pas tahun baru.”
Ayah: Kumaha Ade we lah…

Baca juga: Mengajari Anak Bedanya Agama Islam dan Kristen

Sedikit terperangah mendengar pertanyaan Arden. Dia mungkin bingung bagaimana kenapa merayakan tahun baru itu dibilang haram. Padahal, Ayah dan Ibu di rumah tak pernah mengatakan hal itu. Anak kecil sudah ngomongin haram ini-haram itu kok rasanya aneh ya.

Tidak Pernah Ngajarin Kalau Merayakan Tahun Baru itu Haram

Sejak dini, Arden dikenalkan berbagai perayaan baik hari raya keagamaan maupun tahun baru. Si kecil sudah terbiasa mengucapkan selamat natal dan tahun baru. Satu tantenya adalah kristen. Adik angkat yang beragama kristen. Padanya, kami mengucapkan Selamat Hari Natal dan tahun baru kepadanya.

Saya dan istri juga mengucapkan selamat natal dan tahun baru kepada teman dan saudara yang merayakannya. Sebaliknya juga begitu, ketika hari Lebaran, keluarga adik angkat saya menjadi tamu pertama yang datang ke rumah. Makan kue, mengucapkan selamat lebaran, dan minta uang hari raya tentunya. Perbedaan itu kami rayakan bersama. Lagian kan bikin rasa bahagia kok dilarang-larang sih.

Baca juga: Jangan Ditiru dan Kita Harus Ikut Antrian, Nak

Dengan mengajarkan Arden tidak mengharam-haramkan suatu perayaan, saya berharap dia dapat mengerti kalau begitu banyak yang berbeda di dunia ini. Kita bisa hidup bersama dalam perbedaan dan merayakaannya dengan kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *