Persiapan Ujian Anak SD : Kok Ayah Nanya yang Aku Sudah Tahu Sih?

Persiapan ujian anak SD.

Saya ingin bercerita tentang persiapan ujian anak SD menghadapi ujian kenaikan kelas (UKK). Anak SD yang dimaksud adalah anak semata wayang saya. Dia baru duduk di Kelas 1 Sekolah Alam Indonesia Sukabumi (SAIS). Sebagai orang tua yang baru pertama kali melihat anak mengikuti ujian akhir rasanya biasa saja dan enggak deg-degan juga.

Saya pikir anak saya sudah belajar di sekolahnya dan kadang juga diulang di rumah. Proses belajarnya sendiri kan sangat panjang selama satu tahun. Masa sih harus deg-degan segala. Saya pikir cuma orang tua yang tak percaya sama anaknya saja yang khawatir akan kemampuan anak sendiri.

Saya yakin anak kecil di rumah saya tahu kemampuannya sendiri dan saya juga tahu apa yang dia pelajari. Cuma kadang males juga ngajarinnya di rumah. Konsep Sekolah Alam Indonesia adalah  full day School kan sangat melelahkan ya. Kalau sudah belajar seharian di sekolah, ngapain lagi belajar berlama-lama di rumah. Jadi porsi belajar si kecil paling banter satu jam saja.

Akhirnya Masa Ujian Anak SD itu Tiba dan Menolak untuk Belajar Lagi

Anak saya sendiri tampaknya enggak begitu ngeh kalau dia akan menghadapi ujian. Saya dan ibunya memberitahunya, “Kamu mau ujian ya Arden. Belajar ya.” Tanggapan anak saya ya mengernyitkan dahinya. “Kok belajar lagi sih Ayah, kan udah belajarnya di sekolah,” jawabnya tangkas seolah ingin menangkis petitah orang tuanya.

Tak mau kalah dengan siasat anaknya, ibunya memintanya belajar demi persiapan ujian anak SD, “Enggak lama kok cuma sebentar saja.” Nasibnya sebagai anak kecil tak bisa ditolak dan akhirnya mengikuti permintaan mengulang pelajar sekolah. Ada kisi-kisi pelajaran dari sekolah juga rupanya.

Ketika sesi pertanyaan, anak saya tampak ogah-ogahan. “Sebutkan bagian tumbuhan,” tanya saya dengan suara tegas bak guru sekolah. “Ih Ayah nanya kok yang aku sudah tahu sih?” Eh dia kayak menolak pertanyaan itu. “Udah jawab saja, kamu tahu enggak jawabannya?” tak mau kalau sama anak. “Daun, akar, batang, bunga, buah,”jawabnya cepat.

Lalu, saya tanyakan pertanyaan lainnya, “Sebutkan ciri-ciri rumah sehat?” Anak saya ketawa. “Kalau belajarnya cuma nanya yang aku udah tahu. Ngapain kita cape-cape. Ayo we belajar terus,” katanya tampak tak suka dengan pertanyaannya. “Tapi kamu tahu jawabannya?” tanya saya menyelidik. “Ayah aku teh sekolah sudah diajarin rumah sehat teh, ada dua pintu, ada jendela, lingkungan bersih. Udah we ya Yah, aku mau main lego lagi.”

Krik, krik, krik. Ya sudah kalau gitu. Belajar pun dihentikan, Arden pun main lego lagi. Setelah belajar dia berhasil membuat rumah berantakan.

Baca juga:

Pengen Punya Skateboard Tetapi Anak Malah Beli Lego

Akhirnya Anak Saya Bisa Cebok Sendiri

Cukup Persiapan Ujiannya dan Berhenti Bertanya Lebih Jauh Lagi

Kalau sudah begitu ya proses belajar benar-benar tidak dilanjutkan lagi. Sudah cukup! Anaknya enggak mau ditanya soal yang menurutnya kok diulang lagi. Ayahnya bingung mau nanya soal yang mana lagi. Kan kisi-kisi dari sekolahnya cuma itu doang.

Saya dan ibu anak SD di rumah kami memang tak memaksanya dalam hal belajar, karena sadar setengah masa hidupnya sudah dihabiskan di sekolah. Dia belajar banyak dari para fasilitatornya (sebutan untuk guru di sekolahnya). Dia mungkin bosan juga kalau harus belajar lagi di rumah.

Lagian masih kelas satu SD juga. Ndak perlu ada paksaan belajarnya dan persiapan ujian anak SD sudah maksimal. Cukup bertanya kamu tahu kan jawabannya. Meski sering menerima jawaban, “Emangnya Ayah enggak pernah sekolah ya? Namanya juga sudah belajar. Ya aku pasti tahu jawabannya.”

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *