Mengenalkan Pohon Keluarga Kepada Anak, Kenapa Anakku Jadi Dua Orang?

Mengenalkan Pohon Keluarga Arden

Si kecil yang sedang dididik di Sekolah Alam Indonesia Sukabumi pernah mendapat tugas mengenalkan pohon keluarga kepada anak. Hasilnya mengejutkanku…

Gambar di atas tersebut adalah tugas yang dikerjakan di sekolah Arden. Dia diminta mewarnai sekaligus menulis silsilah dari Ayah dan Ibunya. Kalau dilihat sekilas tampak tak ada yang salah. Ada kakek dan nenek dari Ayah dan Ibunya. Dia tulis nama kakek dan nenek dari sisi ibu. Sedangkan nama opung dan neneknya dia tak tahu. Aku memang jarang sekali menyebut nama Ayah dan Mamak. Cukup dengan Opungmu dan Nenekmu…

Lalu, aha dia tahu namaku dan nama ibunya. Meski ejaannya ya salah. Tetapi cukup menyentuh hati karena kayaknya baru usia 4 tahunan dia tahu seorang Phadli adalah nama Ayahnya. Kami baru mengenalkan nama orang tua padanya di usia 4 tahun itu. Waktu melihat nama Anak kok rasanya ada yang aneh ya?

Baca juga: Ayah Menjaga Anak Sementara Ibu Pergi Berkerja Ke Luar Kota, Apa Jadinya?

Mengenalkan Pohon Keluarga Kepada Anak, Tetapi Kok Jadi Punya Kakak ya…

Nah, ketika melihat tema tugas mengenalkan pohon keluarga pada anak. Eh kok ada nama Salim. Anakku Kok jadi dua orang. Lalu diinterogasilah anak kecil ini. Arden ternyata sadar betul kalau dia menulis itu, karena merasa punya kakak. “Iya kan yah, Salim kakak Arden,” Ketika baru ditanya kok ada nama Salim? Salim adalah satu dari sekian kakak sepupunya.

Arden dari garis Harahap memiliki 11 sepupu dan dia mengenal semuanya dengan baik. Dia sudah 2 kali bertemu di Medan dan entah berapa kali ngobrol via telepon. Aku dan ibunya juga ajarkan kalau semua adalah Saudaranya. Ada kakak dan adik dari gen Bataknya.

Karena dibilang saudara, rupanya dia anggap saudara itu kayak kakak dan adik kandung. “Salim itu memang kakak Arden, kan?” Tanyanya lagi karena melihat ayahnya heran ada nama dua anak di pohon keluarga yang diwarnainya.

Ayah: “Emang menurut kamu, kenapa Salim harus ditulis di pohon itu? Kamu kan anak tunggal?”
Arden: “Loh kata Ayah kan Salim Kakak Arden. Dia kan Kakak Saudara.”

Yes, dia anggap kakak saudara itu layaknya saudara kandung. Ehm, mungkin dia belum tahu bedanya. Tetapi munculnya Salim jadi kakaknya di pohon keluarga enggak diherankan juga. Karena abang, kakak, dan adikku mengenalkan mereka semua sepupu sebagai satu saudara sejak keciiiil sekali. 5 dari 6 saudara kandung Ayah Arden telah menikah dan beranak pinak.

Lalu, kenapa di pohon keluarga tidak ditulis Adik Ryandi, Aka, atau Fatih? “Mereka suka rebut mainan. Aku ga mau punya adik yang suka rebut mainan.” Katanya menutup tanyaku tentang pohon keluarga yang membuatku punya anak dua. 😅😅😅

Baca juga: Mengajak Anak Donasi Buku, Bisa Enggak ya?

Mengenalkan Saudara Sepupu Merekatkan Tali Keluarga dari Dalam Hati Anak Semata Wayangku

Tuga mengenalkan pohon keluarga itu membuatku sadar, kalau Arden mengingat begitu dalam bahwa dia memiliki kakak dan adik. Dia menilai semua sepupunya itu layaknya saudara kandung. Meski aku tak yakin dia mengerti apa itu suadara kandung. Soalnya, dia hanya anak semata wayang.

Abang, Kakak, dan Adikku selalu menyebut-nyebut nama anak-anak mereka kepada Arden dan sudah bertemu dua kali ketika libur ke Medan. Rupanya cara tersebut cukup ampuh untuk mendekatkan para sepupu yang hidupnya berjauhan antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Ketika persaudaraan antara orang tua sekandung terjalin erat dan anak-anak pun saling mengenal, maka keeratan hubungan hingga anak cucu akan terjalin dengan baik. Aku juga ingat siapa sepupu-sepupuku… Ayah dan Mamakku mengajari persaudaraan antara sepupu juga kepada kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *