Ya Aku Kasih-Kasih Aja Semua Makananku: Mengajari Anak Berbagi Tidak Mudah

mengajari anak berbagi tidak mudah.

Sedari kecil, Ayahblogger dan Ibunya berupaya mengajari anak berbagi. Tujuannya untuk membangun rasa sempati terhadap temannya. Ternyata oh ternyata tidak mudah, karena anak sering mengartikan lain dari apa yang kita ajarkan.

Arden : Yah, ayo kita jajan susu lagi ke indomaret.
Ayah : Loh??? Kan baru dua jam lalu beli 5 susu kotak.
Arden : Kurang atuh yah cuma 5 kotak mah…
Ayah : Kurang gimana?
Arden : Ya kurang. Tadi teman Ade datang berapa orang coba?
Ayah : Joseph, Rahul, Sinatra, dan Naira… 4 orang.
Arden : 4 orang tambah 1 orang sama aku. jadi 5. Nah pas kan, susunya ada 5 kotak. Aku bagi-bagi 4 buat teman.
Ayah : Loh??? Kok kamu kasih semua ke teman-teman.
Arden : Ayah gimana sih! Kata Ayah jangan pilih kasih kalau berteman. Susunya aku kasih-kasih semua ke teman. Ayah marah!
Ayah : Hayang ceurik (mau nangis), betul nak jangan pilih kasih. Tapi masa iya semua kamu bagi-bagiin jajanan kamu…
Arden : Gitu aja pusing Ayah mah. Indomaret dekat juga, tinggal naik motor ke sana…
Ayah : &*#(#)@&@ (Hayang nekek da urang mah, sumpah).

Mengajari Anak Berbagi Serta Memberi Pemahaman Batasannya

Acapkali makanan habis dibagikan sama teman. Saya dan istri putar otak mengajari anak berbagi. Kalau semua jajanannya dibagikan bisa rempong juga. Bisa membengkak jatah jajanan buatnya. Setiap temannya datang semua makanan habis terbagi.

Maka perlahan-lahan Arden anak semata wayang kami juga diajarkan kalau berbagi juga ada batasannya. Tidak semua makanan atau jajanan yang dia simpan di box makanan harus dikasih-kasih ke teman. Contohnya kayak diobrolan di atas; ketika ada susu kotak 5 biji, temannya yang datang 4 orang. Susu dibagikan semua ya bisa-bisa dia jadi enggak punya stok susu lagi.

“Jadi kalau punya makanan atau minuman kayak susu lima kotak jangan dikasih semua sama teman,” kata ibunya. Arden tentu saja tidak langsung memahami. “Kalau tidak dibagi semua, kan kasihan yang tidak kebagian,” sahutnya merasa yang diajarkan ibunya malah tidak adil, karena tidak semua kebagian susu.

Lalu dikasih pengertian, kalau si kecil harus menyimpan sebagian makanannya untuk stok kalau-kalau dia tengah malam pengen minum susu. Barulah Arden mengerti. “Tapi ngasih-ngasih ke teman enggak apa-apa kan?” Ibunya tentu saja mengangguk tanpa memberi jawaban.

Begitulah, Ayah dan Ibu sering mengajarkan beribu kebaikan, tetapi apa yang dibenak orang tua sering tak sama dengan yang dipikirkan anak. Hingga saat sekarang, si kecil mulai membatasi untuk berbagi dan sebagian tetap terjaga di box makanan. Cuma sekali-kali kalau temannya yang datang kerumah kebanyakan, ya habis juga itu semua makanan yang dia punya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *