Andai Teman Bisa Dibeli

andai teman bisa dibeli

Bagaimana ya rasanya, Andai teman bisa dibeli. Kalau kita butuh teman tinggal beli saja di minimarket atau belanja ke pasar. Kan Asyik. Seperti Obrolan Ayah dengan Arden ini.

Arden : Ayah kasihan kura-kuranya sendiri. Enggak ada temannya.

Ayah : kamu kan bisa jadi temannya

Arden : Tapi ayah… ade juga enggak ada temannya

Ayah : itu kura-kura temanmu

Arden : Atuh ayah… masa teman ade kura-kura

Ayah : Jadi mau Ade gimana?

Arden : Ade mau beli teman, satu. Terus kura-kura juga beliin teman, satu

Ayah : Terserah kamu aja Arden…

Baca juga: Yah, Kata Ferdinan Merayakan Tahun Baru itu Haram

Waktu ngomongin andai teman bisa dibeli, usia Arden masih 3 tahun. Dia sudah mulai lancar bicara, meski cadel-cadel dan obrolan masih kalimat singkat. Kami masih tinggal di rumah nenek dari ibunya waktu itu. Serumah dengan mertua. Gerak masih terbatas dan Arden tidak punya teman, karena lebih banyak bermain di dalam rumah seharian penuh.

Kalau sekarang sih temannya udah banyak, baik di rumah maupun di sekolah. Dia juga bisa memilih teman yang baik menurutnya. “Si Augustus suka memukul, katanya waktu pulang sekolah,” jadi dia tidak mau berteman dengan Augustus. Beda dengan Joseph, yang ramah, lebih pendiam, dan suka diajak main di sawah belakang sekolah.

Kalau Dulu Bilang Teman Bisa Dibeli, Sekarang Sudah Bisa Memilih Teman

Andai teman bisa dibeli sudah tidak berlaku lagi. Sejak Arden mengenal sekolah, dia sudah punya teman, tidak hanya satu atau dua orang. Begitu pula di lingkungan rumah, dia sering membawa hingga 5 orang temannya untuk bermain di rumah.

Kalau dilihat-lihat anak kecil semata wayang ini memilih teman yang bersikap lembut, tidak suka memukul, dan enggak mudah marah. Maklum, kalau dikasari sedikit saja Arden bisa menangis.

Seperti kejadian sama Augustus di sekolah. Matanya sembab ketika dijemput. Eh rupanya kena pukul sama temannya itu. Sejak itu, katanya dia enggak mau dekat-dekat lagi dan memilih teman lain.

Baca juga: Mengajari Anak Bedanya Agama Islam dan Kristen

Saya sendiri bilang sama Arden kalau harus berteman sama semua orang, biar tahu gimana orang baik dan enggak baik. Sebaliknya saya ajari pula trik berteman padanya. Misalnya membagi makanan, menolong teman yang jatuh, dan ajak teman main ke rumah.

Dia menerapkannya, sampai kadang-kadang dianya sendiri kehabisan makanan. Karena setiap temannya datang, ya makanannya dibagi-bagi sampai habis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *